Suku Mante Sudah Ada di Aceh Sejak 3000 SM

loading...
loading...
loading...
Sejarawan Aceh, Dr Husaini Ibrahim, MA, menyebutkan suku Mante sudah hidup di Aceh sejak 3000 Sebelum Masehi (SM). Menurut pengetahuannya, Mante merupakan suku bangsa tertua yang hidup di Aceh dan termasuk dalam Proto Melayu atau Melayu kuno.
“Nah kalau kita melihat sejarah, Proto Melayu yang datang ke Aceh itu sudah berlangsung sejak 3000 tahun SM. Mereka itu sudah ada di tempat ini,” kata Husaini yang juga arkeolog Unsyiah kepada portalsatu.com, Senin, 27 Maret 2017.

Dia menjelaskan, suku bangsa Proto Melayu berasal dari Campa, Kamboja. Mereka mendatangi Aceh dengan melintasi Thailand, dan berlabuh di pesisir Aceh Besar. Kemudian, suku bangsa Melayu tua ini menuju kawasan Aceh Utara dan Aceh Timur.

Dia mengatakan, suku Mante yang ada di Aceh tidak jauh berbeda dengan suku Melayu Kuno, yang juga tersebar di beberapa daerah di Nusantara.

“Pada awalnya mereka itu memang sama dengan suku-suku bangsa Melayu kuno lainnya. Jadi seperti Suku Bajong, misalnya, yang ada di kawasan-kawasan Sulawesi. Atau beberapa suku lain yang ada di Nusantara,” kata Husaini Ibrahim.

Suku Mante dijelaskan oleh Husaini Ibrahim, memiliki kaitan dengan orang-orang yang tinggal di pedalaman Aceh Besar-- yang dikenal dengan istilah Rumoh Duabelah (Rumah Dua Belas). Mereka yang sudah ada dan hidup di kawasan tersebut sejak 3000 SM, perlahan mencari kawasan untuk berlindung ke pedalaman.

“Jadi Proto Melayu yang datang ke Aceh pada waktu itu, sehingga mereka itu mencari lokasi-lokasi tertentu yang bisa memenuhi kehidupan mereka. Jadi mereka itu ya masuk ke daerah pedalaman, lalu untuk menyelamatkan diri tentu mereka mencari kawasan-kawasan untuk berlindung,” katanya lagi.

Dia mengatakan suku Mante tidak hanya hidup dan tersebar di kawasan Aceh Besar. Mereka juga tersebar di beberapa wilayah di Aceh, dan lebih banyak tinggal di pedalaman.

Menurut Husaini, perkembangan teknologi serta masuknya pengaruh budaya asing, turut memengaruhi bergesernya wilayah Suku Mante ke pedalaman.

“Ketika kedatangan orang-orang Hindu, Budha, misalnya ke Nusantara ini, mereka ini akan terdesak. Termasuk juga pada saat proses Islamisasi, dulu ada orang-orang ini yang ingin diislamkan, tetapi mereka tidak mau sehingga mereka itu lari ke beberapa kawasan termasuk ke daerah Gayo,” kata Husaini Ibrahim.

“Nah jadi sampai hari ini juga di sana juga ada, kemudian di daerah Lokop, juga mereka pernah ada,” katanya lagi.

Namun, kata Husaini, aktivitas suku Mante tidak diketahui secara luas. Hal ini dikarenakan suku tersebut sangat tertutup bahkan sering melarikan diri jika bertemu dengan orang lain. Sementara untuk ciri-ciri fisik suku Mante, kata Husaini, sedikit berbeda dengan orang biasa yang ada di Aceh. 

“Suku Mante itu kecil. Jadi rata-rata mereka itu sekitar 60 atau 70 cm paling tinggi, tidak seperti kita satu meter lebih. Nanti ada yang paling tinggi, satu, dua, tingginya satu meter, tetapi kebanyakan di bawah itu,” kata Husaini Ibrahim. "Kalau warna kulit, seperti kulit orang Melayu ya, jadi sawo matang. Nah, sama seperti kita sebenarnya. Kemudian juga rambutnya lurus tidak ada masalah dengan ciri-ciri yang lain itu, sama dengan manusia biasa yang normal, yang hidup di Aceh,” katanya lagi.

Husaini Ibrahim mengatakan suku Mante pandai menutup jejak sehingga sangat susah mencari komunitas mereka di pedalaman. Mereka juga diduga pelari cepat, sehingga setelah bertemu dengan manusia biasa sering tiba-tiba menghilang. Suku ini juga terkesan enggan berkomunikasi dengan manusia lain. Diduga ada sejarah kelam sehingga mereka selalu dalam kondisi was-was dan menghindari manusia lain.

“Kita tidak paham dengan bahasa mereka, jadi mereka itu menggunakan bahasa mereka sendiri,” jelasnya lagi.

Husaini menduga jumlah populasi suku Mante di Aceh bisa mencapai puluhan orang. Namun, kepastian tersebut belum terbukti secara ilmiah karena sifat hidup Mante yang nomaden.

“Mereka akan berpindah dari satu kawasan ke kawasan yang lain. Ini sangat tergantung kepada kondisi alam. Kalau mereka masih memungkinkan untuk hidup di satu tempat, di satu daerah, mereka akan tetap bertahan di situ, hidup di gua,” katanya lagi.[]
Editor: BOY NASHRUDDIN
sumber: Portalsatu.com
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger