Zulfiandi: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang?

loading...
loading...
Evan Dimas berjuang sekuat tenaga memimpin lini tengah Indonesia di atas rumput Stadion Shah Alam, Malaysia. Seperti pasukan paspampres, Hanif Sjahbandi berdiri sedikit di belakangnya untuk melindungi garis pertahanan Indonesia
Sementara itu, Septian David Malauna yang sedikit berdiri di depannya terus mencari celah di tengah-tengah kepungan pemain-pemain Malaysia. Pertanyaan kemudian muncul ketika timnas Indonesia masih tampak kesulitan untuk menembus pertahanan Malaysia pada pertandingan itu: "Apa yang kurang dari penampilan timnas Indonesia?"

Absennya Hargianto, gelandang bertahan Indonesia, mungkin bisa menjadi jawaban masuk akal dari pertanyaan tersebut. Tetapi apabila pertanyaan tersebut ternyata selalu muncul dalam setiap penampilan timnas selama berlaga di SEA Games 2017, jawaban dari pertanyaan tersebut bisa saja seperti ini: timnas kurang cakap dalam memainkan bola di daerah sepertiga akhir.

Dalam pertandingan melawan Malaysia, kekurangan timnas tersebut memang cukup terlihat. Kemampuan bagus dalam meretensi bola di daerah sendiri untuk kemudian melepaskan bola direct ke daerah pertahanan Malaysia nyaris tak berguna. Selain karena Malaysia bertahan dengan lima orang pemain, postur tubuh mereka pun terlihat mumpuni untuk memenangkan duel-duel udara.

Sadar bahwa menguasai daerah sepertiga akhir menjadi salah satu cara ampuh untuk membongkar rapatnya pertahanan Malaysia, Evan Dimas kemudian mulai mengembangkan kreativitasnya. Sesaat setelah mendapatkan bola, dengan memanfaatkan aksi individunya, ia sering kali berhasil melewati dua-tiga orang pemain Malaysia yang berusaha mengganggu kinerjanya untuk menembus daerah sepertiga akhir.

Namun saat memasuki daerah sepertiga akhir, ia ternyata banyak menemui kendala. Karena jarang mendapatkan dukungan berarti dari rekan-rekannya, opsi umpannya terbatas. Ia tidak mempunyai fasilitator untuk meretensi bola di daerah tersebut. Serangan Indonesia pun sering mentah begitu saja.

Pada akhirnya, usaha Evan untuk menerobos lini tengah Malaysia menjadi sia-sia. Parahnya, usaha tersebut juga berdampak pada permainan Evan Dimas secara keseluruhan. Tenaga Evan mulai habis di pertengahan babak kedua.

Malaysia kemudian mendapatkan momentum untuk menguasai pertandingan. Sejak saat itu, layaknya pasukan udara Jerman kala menggempur London di Perang Dunia Kedua, pemain-pemain Malaysia mulai lancar mengirimkan umpan-umpan lambung berbahaya ke arah kotak penalti Indonesia. Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah mimpi buruk: sundulan kepala Nadarajah Thanabalan berhasil memastikan kemenangan Malaysia.

Mundur empat tahun dari gelaran SEA Games 2017, tepatnya dalam gelaran Piala AFF U-19 pada tahun 2013 lalu, timnas Indonesia memiliki salah satu tim terbaik menyoal kinerja di daerah sepertiga akhir. Saat itu, lini tengah Indonesia terlihat seperti sedang bermain petak umpet setiap kali menguasai bola di daerah tersebut.

Lawan-lawan Indonesia hampir selalu kesulitan untuk menebak dari arah mana Indonesia akan melancarkan serangan, sampai mereka mendapatkan hukuman karena gagal menebak dengan benar. Dan dari kehebatan timnas Indonesia dalam memainkan bola di daerah seperti akhir tersebut, Zulfiandi, gelandang timnas Indonesia U-19 saat itu, mempunyai peran yang sangat krusial.

Jika Anda pernah menyaksikan film Dunkirk karya Christopher Nolan, Anda pasti mengetahui bahwa film tersebut mempunyai tiga plot yang berbeda: Pertama, plot tentang Tommy, seorang tentara Inggris yang berada di garis depan; kedua, plot tentang Ferrier,

Seorang pilot pesawat tempur Spifire; dan ketiga, plot Mr. Dawson, seorang nelayan sipil yang ikut ambil bagian sebagai tim penyelamat. Dan dari ketiga plot tersebut, plot tentang Mr. Dawson bisa jadi yang paling menarik perhatian.

Secara kasat mata, cerita tentang Mr. Dawson dalam film tersebut memang sederhana, di mana dia hanya perlu mengarahkan perahunya dari Dover, Inggris ke Dunkirk untuk membantu evakuasi.

Namun, secara tidak langsung, ia ternyata mampu menghubungkan dua plot lainnya dalam film tersebut. Singkat kata, melalui sudut pandang Mr. Dawson, Anda dapat mengetahui bagaimana perasaan para tentara yang berada di garis depan dan juga bagaimana perjuangan pasukan udara Inggris dalam melawan pasukan udara Jerman dalam waktu bersamaan.

Di lini tengah timnas U-19, kinerja Zulfiandi sangat mirip dengan Mr. Dawson. Ia adalah penghubung utama serangan Indonesia, terutama dari lini tengah ke daerah sepertiga akhir. Dan saat bola sudah memasuki daerah sepertiga akhir,

Ia juga bisa menjadi fasilitator yang mampu membuat Evan Dimas bekerja secara maksimal di mana dia selalu memberikan solusi saat Evan kesulitan mengembangkan permainan di daerah berbahaya tersebut. Kemampuan Zulfiandi tersebut kemudian berhasil membuat permainan timnas Indonesia begitu cair dan sedap untuk dipandang mata.

Sebagai seorang pemain tengah, Zulfiandi memang tergolong mempunyai kemampuan unik. Ia bukan seorang holding midfierder, tapi juga bukan seorang box-to-box midfielder. Meski mampu bermain sama baiknya saat memainkan kedua peran tersebut, ia lebih maksimal saat berperan di antaranya keduanya: setengah holding midfielder dan setengah box-to-box midfielder.

Salah satu alasannya: Zulfiandi mahir dalam melakukan umpan-umpan pendek satu-dua sentuhan yang mampu mendukungnya untuk merangsek ke lini depan tanpa banyak mencuri perhatian pemain lawan. Dan jika Anda merupakan penggemar sepakbola era 90-an, peran Zulfiandi ini mungkin mengingatkan Anda akan sosok Fernando Redondo, mantan gelandang fenomenal asal Argentina.

Saat masih aktif bermain, karena kemampuan uniknya, Redondo sering kali mendapatkan pujian dari tokoh-tokoh penting dalam dunia sepakbola. Sir Alex Ferguson, mantan pelatih Manchester United, pernah bertanya dengan sinis ketika Redondo menimbulkan kekacauan saat Manchester United menghadapi Real Madrid di babak perempat-final Liga Champhions tahun 2000 lalu.

"Apa yang ada di kakinya (Redondo)? Magnet?" kata Ferguson setelah pertandingan. Masih bersumber dari pertandingan yang sama, kehebatan Redondo kemudian juga membuat Jonathan Wilson, salah satu penulis sepakbola terkenal asal Inggris, menulis kolom yang berjudul "The Question: How did a nutmeg change football tactics in the noughties?".

Pujian untuk Redondo juga muncul dari Fabio Capello, mantan pelatih Redondo di Madrid, dan Simon Kuper, penulis buku Football Against the Enemy. Sementara Fabio Capello menyebut Redondo merupakan pemain yang paling sempurna menyoal pemahaman taktik, Simon Kuper pernah menulis kisah tentang Redondo dengan judul One-touch Perfectionist – ya, judul ini terinspirasi karena kemampuan Redondo dalam memainkan operan pendek pendek satu-dua sentuhan.

Sayangnya, tidak seperti Redondo, sebelum kemampuan Zulfiandi benar-benar dihargai oleh banyak orang, pemain kelahiran Aceh tersebut tiba-tiba tenggelam begitu saja. Penampilannya bersama timnas U-19 dalam gelaran Piala AFF U-19 tahun 2013 lalu merupakan penampilan terbaiknya. Setelah itu, kehebatannya hanya terlihat seperti sebuah mitos.

Pasca gelaran Piala AFF U-19 tahun 2013 lalu, Zulfiandi memang masih menjadi bagian dari timnas U-19 yang berlaga di kejuaran Piala Asia U-19. Saat itu, ia tampil dalam pertandingan perdana di mana Indonesia harus menyerang 1-3 dari Uzbekistan. Namun, penampilannya dalam laga tersebut sangat jauh dari standar.

Ia tidak secerdik sebelumnya, umpan-umpannya pun tidak seakurat biasanya. Dan yang paling parah, ia menjadi salah satu titik lemah Indonesia dalam pertandingan tersebut.

Penampilan buruk Zulfiandi itu kemudian menjadi awal bencana bagi dirinya. Setelah laga itu, ia hanya menjadi penghuni bangku cadangan saat Indonesia kalah dari Australia dan Uni Emiran Arab. Setelah gelaran Piala Asia U-19 tersebut berakhir, Zulfiandi seperti sedang berada di dalam sumur yang paling dalam.

Sepanjang tiga tahun terakhir ini, di tengah meroketnya penampilan Hargianto dan Evan Dimas, mantan dua rekannya di lini tengah timnas U-19, nama Zulfiandi hanya terdengar secara samar. Bagaimana tidak, berseragam Bhayangkara FC, ia hanya tampil satu kali dalam gelaran Indonesia Soccer Championship (ISC) A tahun 2016 lalu dan hanya tampil tiga kali dalam gelaran Liga 1 sejauh ini.

Konon, cedera lutut berkepanjangan yang dialami Zulfiandi yang membuatnya seperti itu. Masalah lutut itu sendiri mulai dialaminya saat membela timnas U-19 dalam gelaran Piala Asia U-19 tahun 2014 – tak heran jika ia tak mampu tampil maksimal dalam turnamen bergengsi di Asia tersebut. Saat ini, setelah kembali mendapatkan menit bermain dari Bhayangkara FC di Liga 1 pekan ke-23 lalu, kondisi lutut Zulfiandi dikabarkan sudah mulai membaik.

Lalu, apakah Zulfiandi sudah siap untuk memperbaiki reputasinya yang sempat meredup? Sementara penggemar sepakbola Indonesia hanya bisa berharap, sepertinya hanya Zulfiandi sendiri yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, mengingat Zulfiandi masih berusia 22 tahun, menikmati masa depan seperti Syamsir Alam atau Octovianus Maniani bukanlah sebuah pilihan bijak bagi dirinya.
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger