Maulid FOBA & Kedatangan Ahok

loading...
loading...
Sehubungan dengan viral-nya pemberitaan media atas kehadiran Ahok pada acara maulid asrama FOBA Jakarta, Minggu, 5/3, sebagai alumni saya sampaikan pandangan atas beberapa pertanyaan sebagai berikut;
Maulid FOBA & Kedatangan Ahok
1. Peringatan Maulid atau acara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) telah menjadi agenda rutin asrama Foba Aceh di Jakarta dari tahun ketahun.

2. Undangan terhadap Ahok tak ada sangkut paut dengan kasus hukum yang menimpanya atau dirinya sebagai CALON Gubernur. Tapi Bapak Basuki Tjahya Purnama diundang dalam kapasitas Jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta (aktif) yang melekat pada dirinya. Sebab asrama Foba berada di dalam wilayah teritori DKI Jakarta. Tahun sebelumnya juga diundang baik Gubernur, pejabat, maupun tokoh publik di kalangan sipil/militer, dan komunitas Aceh sejabotabek dari berbagai profesi maupun jabatan struktural pemerintahan.

3. Karena ini musim Pilkada, maka Ahok yang sebelumnya tak pernah hadir (mungkin) memanfaatkan momentum tersebut untuk berhadir, sementara panitia dan undangan lain mengetahui kehadiran Ahok last minute, sehingga sempat kaget. Dalam studi komunikasi politik, dikenal namanya push political marketing dalam penemenangan kandidat, yaitu sebuah upaya kandidat bertemu langsung (tatap muka) dengan konstituennya. Sekecil apapun celah akan dimanfaatkan seorang kandidat untuk membangun citra diri dengan harapan supaya dipersepsikan positif di kalangan pemilih. Anies Baswedan juga turut diundang oleh panitia.

4. Bulan yang lalu saya juga berada di Jakarta dan melihat FOBA masih menjadi asrama mahasiswa Aceh yang baik. Menjadi tempat tinggal dan berkumpul pelajar yang menuntut Ilmu di Jabotabek dari seluruh penjuru Aceh. Banyak kegiatan positif dilakukan selain kuliah. Mulai shalat jamaah tiap waktu, pengajian rutin, mendirikan TPA/TPQ, buka puasa bersama sampai kegiatan sosial kemasyarakatan dengan warga. Maka FOBA bukanlah instrumen politik dan tak ada kaitan dengan parpol, aktivitas maupun dukungan politik dalam rangka dukungan kandidat/partai.

5. Bila ada yang memanfaatkan kehadiran Ahok untuk popularitas pribadi atau menggiring opini bahwa seolah olah penghuni FOBA atau warga Aceh mendukung Ahok sebagai calon Gubernur DKI, maka hal tersebut sangat keliru dan menyesatkan. Sama sekali tak mewakili institusi yang lebih 30 tahun berdiri di Jakarta. Satu hal yang mesti juga diketahui bahwa hampir semua penghuni FOBA ikut bersolidaritas bersama saudara Muslim dari berbagai pelosok Indonesia dalam aksi Bela Islam beberapa waktu lalu di Jakarta.

6. Seharusnya para orang tua dan tokoh kita yang hadir dalam peringatan Maulid tersebut menjelaskan kejadian ini secara bijak dan proporsional kepada publik. Agar tak menimbulkan persepsi negatif kepada khalayak umum dan kontra produktif dengan kepentingan masyarakat Aceh. Sebagai Muslim kita sepakat dengan merujuk pada keputusan MUI bahwa Ahok sebagai tersangka penista agama. 

Namun sebagai WNI yang baik dan kaum terdidik kita harus mengedepankan sikap yang santun, mencerdaskan serta bermartabat. Termasuk dalam meminta penegakan hukum yang berkeadilan terkait status Ahok. Penting sekali dalam konteks diatas dilihat secara menyeluruh dengan mengedepankan hati dan pikiran jernih sehingga tak saling menyalahkan sesama aneuk nanggroe.

7. Sebagai alumni FOBA dan mengenal hampir seluruh penghuni, saya percaya bahwa tidak ada maksud adik adik kita (panitia/pengurus) FOBA untuk menciderai apalagi melukai perasaan para orang tua kami di Jakarta maupun masyarakat Aceh yang kita cintai bersama dengan mengundang Ahok pada acara Maulid di atas.

8. Saya juga yakin bahwa berita maupun komentar tajam yang bermunculan di media sosial secara cepat dan emosional harus dipandang sebagai bentuk kritik dan rasa cinta serta kontrol publik terhadap FOBA, sebagai aset bansa Aceh di Ibukota. Namun memberi ruang dan kesempatan pada pengurus Foba menjelaskan duduk persoalan sebenarnya juga akan menyelamatkan kita dari memberi tanggapan di luar pengetahuan dan kepatutan. Apalagi menghakimi adik adik kita yang sedang dan terus dalam proses belajar di perantauan dengan cara membabi buta.

Oleh karena itu, apa yang telah terjadi tentu akan menjadi evaluasi dan pelajaran penting bagi semua kita (terutama) Foba Aceh di Jakarta. Terutama terkait isu sensitif yang terjadi dimasyarakat yang dapat mempengaruhi psikologi publik secara luas. Kedepan saling koordinasi dan komunikasi yang baik dengan stakeholder Aceh di Jakarta maupun alumni sebuah keniscayaan.
Demikian tanggapan ini saya sampaikan, semoga dengan menyudahi polemik tersebut kita dapat mengambil hikmah sebagai well informed society (masyarakat yang jroh dalam menerima dan mengkonsumsi informasi).

Turki, 6 Maret 2017
Saleum Mulia,
Azwir Nazar
Alumni FOBA 2011-2012.
Alumni Komunikasi Politik UI dan sedang Doktoral di Ankara.
Email: azwirchannelGmail.com
loading...

Artikel Portal Fia Lainnya :

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2016 Portal Fia | Powered by Blogger